TAZKIYAH : ANTARA AMAR MA’RUF DAN DEMONSTRASI, PELAKSAAN (KAMIS, 18 SEPTEMBER 2025) 25 RABIUL AWAL 1447 H

Pada hari Kamis, 18 September 2025, yang bertepatan dengan momentum sakral 25 Rabiul Awal 1447 H, HIMAFI FMIPA UNHAS menyelenggarakan agenda Tazkiyah dengan mengangkat tema yang sangat relevan dan mendalam: “Antara Amar Ma’ruf dan Demonstrasi”. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang refleksi spiritual sekaligus diskusi intelektual bagi mahasiswa Fisika untuk membedah batasan serta korelasi antara kewajiban menyeru kepada kebaikan (amar ma’ruf) dengan aksi penyampaian aspirasi di muka umum atau demonstrasi. Di tengah dinamika pergerakan mahasiswa, Tazkiyah hadir sebagai penyejuk sekaligus kompas moral agar setiap tindakan aktivisme tetap berlandaskan pada nilai-nilai etika Islam dan keadaban.


Diskusi ini mengupas tuntas bahwa demonstrasi bukan sekadar aksi turun ke jalan, melainkan salah satu instrumen modern dalam menjalankan prinsip nahi munkar jika dilakukan dengan niat yang lurus dan cara yang santun. Melalui kajian ini, peserta diajak untuk memahami bahwa menyuarakan keadilan adalah bagian dari integritas seorang muslim, namun harus tetap menjaga esensi tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) agar tidak terjebak dalam anarki atau kepentingan sesaat. Penyelenggaraan yang bertepatan dengan bulan kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW ini diharapkan mampu menginspirasi kader HIMAFI untuk meneladani keberanian Rasulullah dalam menegakkan kebenaran dengan cara yang paling bijaksana (hikmah).

KARIMAH 11 : Karya Islam Dan Dakwah “MUSIBAH SEBAGAI PENGINGAT UNTUK BERTAKWA”

Musibah: Teguran Kasih Sayang Menuju Takwa

Dalam perspektif Islam, musibah bukanlah bentuk kebencian Sang Pencipta, melainkan sebuah alarm spiritual yang berfungsi untuk membangunkan jiwa dari kelalaian. Ketika dunia mulai menyilaukan mata dan membuat manusia lupa akan hakikat penciptaannya, musibah hadir sebagai interupsi yang memaksa kita untuk berhenti sejenak dan menoleh kembali kepada Allah. Melalui kesulitan tersebut, seorang mukmin diajak untuk menyadari kelemahan dirinya dan kemahaperkasaan Allah, yang pada akhirnya akan melahirkan kerendahan hati—sebuah fondasi utama dalam struktur ketakwaan.

Dalam konteks Karya Islam dan Dakwah, memandang musibah sebagai pengingat berarti mengubah duka menjadi energi transformatif. Setiap ujian adalah momentum untuk memperbarui niat, memperkuat sabar, dan memperhebat tawakal. Musibah menjadi filter yang memisahkan antara pengakuan iman yang lisan dengan keyakinan hati yang murni. Dengan memahami bahwa setiap ketetapan Allah mengandung hikmah pembersihan dosa, seorang hamba tidak akan terpuruk dalam keputusasaan, melainkan justru semakin giat memperbaiki diri (bela diri spiritual) untuk mencapai derajat muttaqin yang sesungguhnya.

KARIMAH 10 : Karya Islam Dan Dakwah “ALLAH MENCINTAI ORANG YANG SABAR”

Esensi Kesabaran dalam Pandangan Islam

Sabar bukanlah bentuk kepasrahan yang pasif, melainkan sebuah kekuatan jiwa yang aktif dalam menghadapi dinamika kehidupan. Dalam bingkai KARIMAH 10, konsep “Allah mencintai orang yang sabar” menegaskan bahwa setiap ujian—baik berupa kesulitan, godaan maksiat, maupun lelahnya menjalankan ketaatan—merupakan sarana bagi seorang hamba untuk naik tingkat di sisi Penciptanya. Cinta Allah kepada mereka yang sabar dibuktikan melalui penyertaan-Nya yang khusus, sebagaimana janji-Nya bahwa Dia senantiasa bersama mereka yang mampu menahan diri dan tetap teguh di jalan kebenaran.

Kesabaran dalam berdakwah dan berkarya (Karya Islam dan Dakwah) menjadi fondasi utama agar pesan-pesan kebaikan dapat diterima dengan jernih. Tanpa kesabaran, sebuah karya akan kehilangan ruhnya, dan dakwah akan mudah goyah saat menghadapi penolakan. Mencintai kesabaran berarti memahami bahwa hasil akhir adalah hak prerogatif Allah, sementara tugas manusia hanyalah berikhtiar dengan gigih dan hati yang lapang. Ketika seorang mukmin mampu menjadikan sabar sebagai pelitanya, maka ia tidak hanya mendapatkan ketenangan batin, tetapi juga meraih predikat sebagai kekasih Allah yang kemuliaannya diabadikan dalam Al-Qur’an.


“Sabar memiliki kedudukan dalam iman seperti kedudukan kepala bagi tubuh. Jika kepala dipotong, maka matilah tubuh tersebut.” — Sayyidina Ali bin Abi Thalib

KARIMAH 9 : Karya Islam Dan Dakwah “AMANAH DI ZAMAN FITNAH : TETAPLAH TEGUH”

Simfoni Ilahi: Allah Merancang Waktu, Takdir Menentukan Kisah

Kegiatan KARIMAH 8 (Karya Islam dan Dakwah) hadir sebagai oase spiritual yang mengupas tuntas hakikat tawakal melalui tema mendalam, “Allah Merancang Waktu, Takdir Menentukan Kisah.” Program ini mengajak peserta untuk menyelami rahasia di balik setiap ketetapan Allah, di mana tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi secara kebetulan, melainkan melalui rancangan waktu yang paling presisi. Melalui pembahasan ini, kita diajak untuk memahami bahwa keterlambatan sebuah doa yang terkabul atau perubahan rencana hidup yang mendadak bukanlah sebuah kegagalan, melainkan bagian dari skenario terbaik yang sedang dirajut oleh Sang Maha Perencana. Dengan merujuk pada konsep iman kepada Qada dan Qadar, kajian ini berupaya menumbuhkan kelapangan hati agar setiap Muslim mampu berdamai dengan masa lalu, bersyukur di masa kini, dan optimis menatap masa depan, karena setiap penggalan kisah hidup kita telah dituliskan dengan tinta kasih sayang-Nya.

KARIMAH 8 : Karya Islam Dan Dakwah “ALLAH MERANCANG WAKTU, TAKDIR MENENTUKAN KISAH”

Simfoni Ilahi: Allah Merancang Waktu, Takdir Menentukan Kisah

Kegiatan KARIMAH 8 (Karya Islam dan Dakwah) hadir sebagai oase spiritual yang mengupas tuntas hakikat tawakal melalui tema mendalam, “Allah Merancang Waktu, Takdir Menentukan Kisah.” Program ini mengajak peserta untuk menyelami rahasia di balik setiap ketetapan Allah, di mana tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi secara kebetulan, melainkan melalui rancangan waktu yang paling presisi. Melalui pembahasan ini, kita diajak untuk memahami bahwa keterlambatan sebuah doa yang terkabul atau perubahan rencana hidup yang mendadak bukanlah sebuah kegagalan, melainkan bagian dari skenario terbaik yang sedang dirajut oleh Sang Maha Perencana. Dengan merujuk pada konsep iman kepada Qada dan Qadar, kajian ini berupaya menumbuhkan kelapangan hati agar setiap Muslim mampu berdamai dengan masa lalu, bersyukur di masa kini, dan optimis menatap masa depan, karena setiap penggalan kisah hidup kita telah dituliskan dengan tinta kasih sayang-Nya.

KARIMAH 7 : Karya Islam Dan Dakwah “ALLAH TAHU BATAS KUATMU”

Resiliensi Iman: Allah Tahu Batas Kuatmu

Kegiatan KARIMAH 7 (Karya Islam dan Dakwah) hadir sebagai penyejuk hati dan penguat jiwa melalui tema yang sangat menyentuh, yaitu “Allah Tahu Batas Kuatmu.” Program ini mengupas tuntas janji Allah SWT dalam Al-Baqarah ayat 286, bahwa setiap beban hidup dan ujian yang menerpa seorang hamba telah diukur dengan presisi sesuai dengan kapasitas pundaknya. Melalui pembahasan ini, peserta diajak untuk mengubah sudut pandang dalam menghadapi kesulitan—bukan sebagai beban yang menghimpit, melainkan sebagai proses validasi atas kekuatan iman yang dimiliki. Dengan merujuk pada kisah-kisah kesabaran para nabi, kajian ini menekankan bahwa rasa lelah adalah manusiawi, namun keputusasaan bukanlah pilihan bagi seorang Muslim, karena di balik setiap titik nadir, terdapat pertolongan Allah yang amat dekat bagi mereka yang bertawakal

KARIMAH 6 : Karya Islam Dan Dakwah “BURUK SANGKA”

Membersihkan Hati: Bahaya Buruk Sangka dalam Kehidupan Muslim

Kegiatan KARIMAH 6 (Karya Islam dan Dakwah) hadir untuk membedah penyakit hati yang sering kali merusak ukhuwah, yaitu “Buruk Sangka.” Program ini mengupas tuntas pesan mendalam dari Al-Qur’an mengenai larangan su’udzon, di mana prasangka buruk dianggap sebagai benih dosa yang dapat meruntuhkan kepercayaan dan keharmonisan antar sesama. Melalui pembahasan ini, peserta diajak untuk menyadari bahwa apa yang kita pikirkan tentang orang lain sering kali merupakan refleksi dari kebersihan hati kita sendiri. Dengan merujuk pada prinsip tabayyun (klarifikasi) dan pentingnya mengedepankan husnudzon (berbaik sangka), kajian ini menekankan bahwa menjaga pikiran dari prasangka negatif adalah langkah awal untuk meraih ketenangan batin dan memperkuat ikatan persaudaraan yang tulus di jalan Allah SWT.

KARIMAH 5 : Karya Islam Dan Dakwah “MENJAGA LISAN DAN MENJAGA IMAN”

Harmoni Kata dan Hati: Integritas Lisan dalam Menjaga Iman

Kegiatan KARIMAH 5 (Karya Islam dan Dakwah) hadir dengan tema yang sangat krusial bagi kualitas spiritual seorang Muslim, yaitu “Menjaga Lisan dan Menjaga Iman.” Program ini mengupas tuntas kaitan erat antara apa yang terucap dari mulut dengan apa yang tertanam di dalam kalbu, di mana lisan sering kali menjadi cerminan langsung dari kadar keimanan seseorang. Melalui pembahasan ini, peserta diajak untuk menyadari bahwa setiap kata yang terlontar baik secara langsung maupun melalui tulisan di media sosial memiliki bobot pertanggungjawaban yang besar di hadapan Allah SWT. Dengan merujuk pada pesan Rasulullah SAW tentang keselamatan yang terletak pada kemampuan menjaga lidah, kajian ini menekankan bahwa melatih lisan dari ghibah, dusta, dan perkataan sia-sia adalah kunci utama dalam merawat kemurnian iman serta menciptakan kedamaian dalam ukhuwah Islamiyah.

KARIMAH 4 : Karya Islam Dan Dakwah “MENUTUP AURAT”

Kemuliaan dalam Ketaatan: Hakikat Menutup Aurat

Kegiatan KARIMAH 4 (Karya Islam dan Dakwah) hadir dengan pembahasan yang menyentuh aspek identitas dan kehormatan seorang Muslim, yaitu “Menutup Aurat.” Program ini mengupas tuntas bahwa kewajiban menutup aurat bukan sekadar tren berpakaian atau sekadar aturan formal, melainkan bentuk ketaatan tertinggi dan manifestasi rasa cinta kepada Sang Pencipta. Melalui sesi ini, peserta diajak untuk memahami filosofi di balik syariat hijab dan batasan aurat sebagai pelindung kemuliaan diri (izzah) serta benteng moral dalam berinteraksi di ruang publik. Dengan merujuk pada dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah, kajian ini menekankan bahwa menutup aurat adalah langkah nyata dalam menjaga kesucian hati dan martabat, sekaligus menjadi dakwah visual yang mencerminkan indahnya akhlak Islam di tengah keberagaman budaya modern

KARIMAH 3: Karya Islam Dan Dakwah “MENUNTUT ILMU”

Cahaya Peradaban: Urgensi Menuntut Ilmu dalam Islam

Kegiatan KARIMAH 3 (Karya Islam dan Dakwah) hadir dengan tema fundamental yang menjadi pilar kebangkitan umat, yaitu “Menuntut Ilmu.” Program ini mengupas tuntas filosofi ilmu dalam Islam, di mana proses belajar bukan sekadar kewajiban akademis, melainkan bentuk ibadah yang derajatnya ditinggikan oleh Allah SWT. Melalui pembahasan ini, peserta diajak untuk merefleksikan kembali niat dalam menimba ilmu baik ilmu agama maupun ilmu dunia sebagai bekal untuk menebar manfaat dan menjalankan peran sebagai khalifah di bumi. Dengan merujuk pada spirit wahyu pertama, “Iqra,” kajian ini menekankan bahwa kegigihan dalam menuntut ilmu adalah jalan pintas menuju surga dan kunci utama dalam membangun peradaban Islam yang beradab, kritis, dan solutif di tengah tantangan zaman.